Damri Bandung Gulung Tikar, Pemerintah Daerah Mau Diam Aja?

8 Rute Damri Bandung berhenti operasi./Instagram/@damriindonesia

Kamis, 28 Oktober 2021 lalu menjadi hari yang menyedihkan bagi warga Bandung Raya. Pasalnya pada hari tersebut Perusahaan Umum (Perum) Damri terpaksa menghentikan sementara operasional Damri area Bandung Raya. 


Ada 8 rute yang berhenti operasional yakni, Cicaheum-Cibeureum, Ledeng-Leuwipanjang, Dipatiukur-Leuwipanjang, Elang-Jatinangor via Cibiru, Dipatiukur-Jatinangor, Kebon Kelapa-Tanjung Sari, Cicaheum-Leuwipanjang, dan Alun-alun Bandung-Ciburuy. 


Damri Bandung hanya menyisakan 3 rute yang masih beroperasi yakni Elang-Jatinangor via tol, Cibiru-Cicaheum-Kebon Kalapa dan Alun-alun Bandung-Kota Baru Parahyangan. 


Kabarnya penghentian sementara 8 rute Damri Bandung itu disebabkan oleh kesulitan biaya operasional. Langkah penghentian sementara itu perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan finansial Damri.


Sontak kabar tersebut mengejutkan sebagian besar warga di Bandung Raya. Pasalnya Damri bisa dikatakan menjadi tulang punggung transportasi massal di Bandung Raya setelah angkot dalam beberapa tahun ke belakang. 


Teman-teman saya pun berlomba memberikan penghormatan terhadap jasa Damri Bandung. Ada yang membuat unggahan mengenai kenangan naik Damri, yakni naik armada bus yang non-AC alias angin gelebug dan mengeluarkan asap hitam hingga diganti dengan bus ber-AC dan rendah emisi. Ada juga yang menemukan cintanya di Damri. 


Mayoritas menunjukan betapa berartinya kehadiran Damri Bandung Raya bagi masyarakat. Bagi kamu yang orang Kota Bandung yang berkuliah di Unpad Jatinangor tentu dapat dipastikan menjadi teman setia dari Damri. 


Tentu umbaran kesedihan yang diperlihatkan di media sosial tak lantas membuat Damri beroperasional seperti sedia kala. Namun saya berharap ada pemangku kebijakan yang entah dari pemerintah kota maupun provinsi yang melihat ini. 


Harapannya mereka yang saat ini diamanatkan memegang kebijakan bisa memberikan solusi untuk keberlangsungan Damri Bandung. Entah itu mengeluarkan subsidi atau kebijakan lainnya.   


Akan tetapi hingga saat artikel ini ditulis saya melihat belum ada warta yang mengabarkan bahwa pemerintah daerah bakal memberi perhatian kepada Damri Bandung atau menjajakan opsi tranportasi lain bagi warga yang terdampak.


Entah karena transportasi umum di Bandung Raya belum menjadi daya tarik bagi para pemangku kebijakan atau memang anggarannya kurang. Sebagai contoh kecil, tak ada inisiatif untuk membuat jalur khusus untuk Damri, bus sekolah atau sejenisnya. Padahal membuat jalur khusus bus tergolong mudah. Minimal bisa memakai pembatas dari beton seperti yang ada di Trans Jakarta. 


Padahal menurut saya sebagai kota besar dengan luas yang relatif kecil, Bandung harus mulai menata transportasinya. Jangan sampai melanggengkan mindset car oriented development (COD). Perlu diketahui bahwa Bandung Raya sebenarnya sudah memiliki warisan jaringan transportasi yang mumpuni. 


Sebagai contoh jalur aktif kereta api lokal Cicalengka-Padalarang. Jalur ini melintasi tengah kota Bandung dan menjadi pemabatas Bandung Utara dan Bandung Selatan. Jalur aktif kereta api lokal Cicalengka-Padalarang memiliki percabangan jalur non aktif ke daerah kabupaen Bandung seperti Dayeuh Kolot, Banjaran, Ciwideuy, Majalaya. 


Bayangkan jika jalur-jalur mati itu kembali diaktifkan. Nampaknya bisa memutuskan kemacetan yang kerap terjadi di batas kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Belum lagi jika penambahan stasiun kecil di jalur kereta api lokal Cicalengka-Padalarang, misal dibangun stasiun Arcamanik. Namun jika aktivasi rel kereta api dinilai terlalu mahal, maka sebenarnya bisa mengembangkan transportasi bus semisal Damri. 


Jika Bandung tak segera merevolusi transportasi massal saya yakin beberapa tahun ke depan Bandung bakal semakin semrawut. Dan mungkin akan lebih banyak jalan layang daripada pemukimannya. 


Sepeninjau saya pemimpin terus berganti tapi tranportasi massal di Bandung Raya tak kunjung membaik. Hanya ada wacana dan wacana, dan minim eksekusi.


Jika pemerintah daerah diam saja melihat Damri gulung tikar. Lantas harus kepada siapa kami mengadu untuk pengadaan tranportasi umum di Bandung Raya. 


Share:

0 Comments