3 Objek Eksotis Jalur Kereta Api Lokal Siliwangi Relasi Sukabumi-Cipatat


Lambaian tangan dari anak-anak kecil di pematang sawah dan kebun menghiasi perjalanan KA Siliwangi relasi Stasiun Cipatat-Sukabumi. Mata mereka binar kala melihat kereta api melintas di depannya. 


Bahkan di sejumlah titik lainnya terlihat anak-anak yang cukup besar mengabadikan lewatnya kereta dengan smartphonenya. 


Selain itu, sepanjang perjalanan KA Siliwangi relasi Stasiun Cipatat-Sukabumi, saya disuguhkan pemandangan alam berupa sawah serta lipatan-lipatan perbukitan. Sekilas saya membayangkan jika lewat ke sini lagi ketika jelang masa panen tiba, mungkin akan lebih indah. 


Itulah sedikit pemandangan yang ditemui saya kala naik KA SIliwangi relasi Stasiun Cipatat-Sukabumi. Saya naik kereta itu beserta kawan-kawan Komunitas Aleut pada Minggu, 23 Mei 2021. 


Perjalanan ini menjadi kakaretaan perdana setelah pandemi Covid-19. Tentu situasi saat ini masih dalam bayang-bayang pandemi Covid-19, sehingga masih harus disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker. 


Stasiun Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat./Dok. Rulfhi Alimudin


Hal itu juga yang saya saksikan di Stasiun Cipatat. Kendati calon penumpang terlihat membludak hingga membuat antrean masuk ke station, petugas terus mengingatkan protokol kesehatan. 


Stasiun Cipatat ini termasuk stasiun kelas III atau kecil di Cipatat, Bandung Barat. Stasiun ini termasuk Daerah Operasi II Bandung yang letaknya tidak jauh dari jalan raya Cianjur-Padalarang. 


Salah satu bangunan yang menarik perhatian di Stasiun CIpatat adalah menara air di ujung stasiun ini. Bangunan ini dulunya digunakan untuk mengisi air kereta yang masih menggunakan tenaga uap. Kini bangunan ini menjadi sebagai tanda perjalalan kereta di tanah air. PT Kereta Api Indonesia sendiri memasukan sejumlah banguan atau menara air di stasiun sebagai bangunan cagar budaya.


Eks bangunan menara air di Stasiun Cipatat (kanan)./Dok. Rulfhi Alimudin


Stasiun Cipatat kembali ramai sejak diperpanjangnya jalur KA Siliwangi sampai stasiun ini pada September 2020 lalu. 


Ongkos naik KA SIliwangi dari Cipatat ke Sukabumi hanya Rp5.000. Lalu, Sukabumi-Cianjur sebesar Rp2.000. Sedangkan dari Cianjur-Cipatat cuma Rp3.000. Murah sekali kan.  Tiket Kereta KA SIliwingi bisa dipesan daring lewat aplikasi KAI Access. Beruntung saat itu saya pesan via daring, pasalnya tiket offline di hari keberangkatan sudah habis.


Kembali ke soal Stasiun Cipatat. Stasiun ini telah mendapatkan renovasi dan lebih modern. Hal ini terlihat dari hadirnya kanopi di sepanjang peron. 


Baca Juga: Jelajahi Villa Isola Dalam Satu Babak


Saya naik KA Siliwangi di Statiun Cipatat pada pukul 8.45 WIB. Kendati bertajuk KA Lokal, para penumpang diwajibkan duduk berdasarkan nomor kursi yang tertera di tiket. Beruntung saya kebagian gerbong nomor 6 atau paling belakang sehingga dapat mengambil foto dan video rel yang telah dilalui.


Jika hendak memakai kereta ini pastikan kamu membawa makanan. Pasalnya perjalanan memakan waktu 2,5 jam untuk sampai ke Sukabumi. Jika lapar dalam perjalanan tidak bisa diganjal karena kereta ini tidak dilengkapi dengan kereta makan. 


Selama dalam perjalanan ada tiga objek yang sangat ditunggu. Tiga objek yang menyulut perhatian saya itu, yakni jembatan Leuwi Jurig, ruas rel di petak antara Cibeber-Lampegan, dan terakhi Terowongan Lampegan. 


Jembatan Leuwi Jurig

Jembatan Leuwi Jurig./Dok. Rulfhi Alimudin

Jembatan Leuwi Jurig. Leuwi jurig diambil dari bahasa Sunda. Leuwi artinya bagian terdalam, sedangkan jurig artinya hantu. Nama yang terdengar menyeramkan kan? Namun saya belum menemukan alasan atau literatur yang menjelaskan kenapa dinamakan Leuwi Jurig.


Bisa dikatakan, jembatan Leuwi Jurig jadi salah satu pemandangan terbaik di jalur KA SIliwangi. Pemandangan ini berada di petak antara Stasiun Rajamandala dan Cipeuyem. Jembatan ini membentang di atas sungai Ci Tarum Citarum. 


Di tempat ini pun terdapat fenomena alam yang dahsyat. Di sisi kanan sebelah utara jembatan, terdapat muara sungai Ci Meta. Sungai ini adalah sungai Ci Tarum purba di masa lampau. Aliran sungai ini tempat tersumbat oleh material ledakan Gunung Purba sehingga menciptakan Danau Bandung Purba. 


Petak Stasiun Cibeber-Lampegan

Ruas rel Cibeber-Lampegan./Dok. Rulfhi Alimudin

Ruas rel di petak antara Cibeber-Lampegan terasa menarik bagi saya. Dari informasi yang dihimpun, kereta yang melewati ruas ini harus melaju maksimal 10 km/jam. Pasalnya kondisi tanah di jalur ini tergolong labil. Hal itu dibuktikan dengan ditanamnya cerucuk besi di tepian di jalur, ini. 


Di ruas ini pun terdapat jembatan dengan panjang relatif pendek yang rawan bergeser. Oleh karena itu di sekitar jalur ini pun dibangun pos jaga untuk memantau. 


Terowongan Lampegan

Terowongan Lampegan./Komnitas Aleut/pahepipa

Terowongan Lampegan yang berada di Pasir Gunung Keneng, Cianjur, Jawa Barat. Terowongan ini dibangun tahun 1879-1882. Terowongan sepanjang 686 meter ini merupakan terowongan kereta api pertama di Jawa Barat yang menghubungkan Batavia (Jakarta)-Bandung via Bogor atau Sukabumi.


Pembangunan terowongan Lampegan pun banyak diwarnai kisah-kisah mistik. Salah satunya adalah legenda mistik “Nyi Sadea”. Namun saat ini saya tak akan bercerita soal itu. Mungkin nanti, tapi entah kapan.


Menurut cerita nama Lampegan berasal dari kata yang sering disebutkan oleh orang Belanda ketika memeriksa hasil pekerjaan pegawainya.


Baca Juga: Pengalaman Berjalan Kaki Hingga Puluhan Kilometer


Setiap melihat pegawai yang sedang bekerja di dalam terowongan, dia sering berteriak mengingatkan kepada pegawainya untuk tetap membawa lampu agar lebih aman dari bahaya kurangnya zat asam. “Lamp pegang...., lamp pegang”, dia mengingatkan dalam campuran bahasa Belanda dan Indonesia. Maksudnya adalah agar pegawai membawa lampu.


Namun ada kemungkinan lain soal asal usul nama Lampegan. Pegiat Komunitas Aleut Hevi Fauzan menyebutkan bahwa ia pernah menemukan literatur bahwa nama Lampegan itu merujuk kepada nama tumbuhan. 


Selain itu, nama Lampegan sendiri dapat ditemui di daerah lain seperti di daerah Kecamatan Ibun dekat Majalaya. Di sana tidak ada terowongan kereta tapi daerahnya disebut Lampegan. 







Rute Kereta Api Siliwangi: 


Stasiun Cipatat-Rajamandala-Cipeuyeum-Ciranjang-Selajambe-Maleber-Cianjur-Cibeber-Lampegan-Terowongan Lampegan-Cireungas-Gandasoli-Sukabumi



Stasiun Sukabumi./Dok. Rulfhi Alimudin

Stasiun Sukabumi./Dok. Rulfhi Alimudin

Barudak Komunitas Aleut./Dok. Dary

Stasiun Cianjur./Dok. Rulfhi Alimudin




Share:

2 Comments

  1. Lampegan itu kalau ga salah istilah pertukangan, sama kayak Kamasan (emas) dan Paledang (tembaga). Tapi lupa tukang apa, yg pasti perlogaman. Di Bojongkunci ada soalnya Lampegan jadi nama kampung, yg jalannya butut, kalau diterusin masuk Gandasoli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menarik ditelisik lebih jauh lagi. Ada Gandasoli juga, persis kaya di Sukambumi. Udah lewas Stasiun Lampegan bakal tiba di Stasiun Gandasoli. Jangan² ada hubungannya peristiwa antara Banjaran dan Sukabumi

      Delete