Lahang, Minuman Manis Sarat Manfaat

Dalam artikel Leuhang, Sauna Tradisional Sunda, kang Dede mengira saya yang akan membahas lahang. Lantaran hal tersebut, akhirnya saya keidean untuk membuat artikel tentang lahang. Saya pikir anak-anak kiwari tak mengenal lahang. Jadi apa itu lahang? Mari simak saja.  

Lahang adalah minuman yang dihasilkan dari sadapan nira atau sari aren. Minuman ini memiliki rasa manis dengan warna yang keruh. Lahang identik sebagai minuman khas Jawa Barat. Mungkin karena pada periode 70-an sampai 90-an minuman ini sangat populer di masayarakat Jabar.

Saya sendiri terakhir merasakan manisnya lahang tuh sekitar 3-4 tahun lalu. Saya menemukan penjual lahang di daerah Cigadung, Bandung. Saya meneguk satu gelas lahang seharga Rp. 5.000. Saat itu saya tidak sempat mengobrol dengan penjualnya karena harus buru-buru berangkat kerja. Setelah itu saya belum lagi menemukan penjual lahang. Duh kangen rasanya euy.  

Selain itu ada juga yang menyebut lahang sebagai minuman isotonik. Merujuk pengertian dari BPOM RI (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia) bahwa minuman isotonik merupakan minuman formulasi yang ditujukan untuk menggantikan cairan, karbohidrat, elektrolit, dan mineral tubuh dengan cepat. Artinya dapat mencegah dehidrasi karena tergantinya ion tubuh.

Saya rasa tidak salah juga jika memasukan lahang sebagai minuman isotonik. Karena setelah meminum ini badan saya terasa berenergi layaknya minum pocari sweet.

Cara Pembuatan Lahang

Untuk mendapatkan lahang, petani harus menyadap bunga jantan pohon aren di pagi hari. Bunga jantan pohon dipilih yang sudah mekar agar hasilnya pun melimpah. Langkah pertama sadap atau potong ujung bunga itu. Lalu ujung potongan dibungkus dengan ijuk. Tunggu hingga bekas potongan tersebut mengeluarkan nira. Proses menunggu keluarnya nira ini bisa memakan waktu minimal seharian.

Jika nira sudah keluar cukup banyak. Maka bungkus ijuk bisa dilepas dan diganti dengan lodong (bambu besar yang ujung sudah dibolongin). Akan tetapi lodong yang akan dipakai harus dicuci lebh dulu dan diasapi dengan bara api sampai lodong kering. Proses ini dikenal dengan istilah digorok. Selain itu proses ini juga kabarnya berpengaruhi pada kualitas nira yang dihasilkan.  

Artikel Populer: Borondong Majalaya, Oleh-oleh Khas Bandung Selatan 

Jika proses ini sudah dilalui maka lahang siap disajikan atau dijual. Para penjual lahang biasanya menggunakan lodong sebagai media simpan lahang. Pada bagian atas lodong ditutup ijuk sabuk kelapa. Mereka ngider di waktu pagi dan sore dari satu kampung ke kampung lainnya. Lahang yang dijual pun pastinya masih segar.

Muda dan tuanya pohon aren yang disadap bakal membuat warna lahang berbeda-beda. “Kalau warnanya putih, itu dari pohon aren muda, kalau kecokelatan itu dari pohon yang tua. Rasa yang tua lebih manis,” kata Yudha Purnama pemilik Lahang Sangkuriang dikutip dari ayobandung.  

Kabarnya juga jika lahang di simpan dalam waktu yang lama bakal rusak dan berubah menjadi minuman fermentasi yang mengadung alkohol.  

Manfaat Lahang Bagi Kesehatan

Lahang dipercaya memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan manusia. Mulai dari melancarkan pencernaan, melancarkan ASI, menurunkan demam. Kandungan sukrosa dan kalori pada lahang bisa mengembalikan energi yang hilang setelah seharian beraktifitas. Oleh karena itu tak heran bila banyak yang menyebutkan sebagai minuman isotonik.

Baca juga: Apa yang Buat Nasi Goreng Dendeng Lemak Tiarbah Enak?

Kendati begitu lahang kalah saing dengan minuman bermanfaat lainnya yang tersedia di minimarket. Mungkin agar dapat bersaing diperlukan evaluasi dan merancang strategi bisnis untuk pengembangan lahang. Entah itu membuat perkebuan pohon aren agar produksi lahang bisa banyak, pengemasan ulang lahang dalam bentuk kemasan agar dapat dijual di minimarket.

Mungkin kamu tertarik mencicipi lahang atau mau bisnis lahang?  

*Foto lahang di atas source linisehat.com

Share:

6 Comments

  1. Akhirnya jadi juga dibahas si lahang di sini hehe
    Di Bandung mah lahang itu dijual ya? Di kampung saya di Cianjur kidul sepertnya belum ada yang jual, kalo pengen lahang biasanya minta aja ke orang yang lagi nyadap. Kalo udah kenal biasanya dikasih, kalo gak kenal biasanya beli juga. Tapi gak tau kalo tahun 90-an

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkat akang jadi keidean. Nuhun. Iya dijual kang,biasanya yang dagangnya bapak² di pasisian Bandung misal Sumedang, Majalaya. Duh aselina saya kangen nyobain lahang. Saya pernah ke daerah Cianjur atau Garutnya nu jadi sentra gula aren teh. Pas beli malah dikasih banyak plus bonus mangga. Auto enak atuh.

      Delete
  2. Wahh jadi pengen cobain Lahang, tempatnya unik banget dan Indonesia banget.

    Membaca tentang Lahang ini, saya jadi bayangin tuak yang ada di film2 pendekar jaman saya masih kecil dulu, kalau nggak salah itu film Si Toloy atau Wiro Sableng, biasanya para premannya identik dengan minuman tuak yang di tarok dalam bambu, seingat saya gitu, haha.

    Eh, tapi Lahang ini minuman khas Jabar ya, berarti saya harus ke Bandung dulu baru bisa minum ini, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobain deh, pasti ketagihan.

      Wah iya kaya tuak dengan wadah bambu. Fyi lahang ini kalau disimpan lama bisa jadi semacam tuak juga loh.

      Di daerah lain sebenarnya ada minuman serupa dengan nama yang beda. Misal legen untuk minuman dari pohon lontar. Kalau liburan ke Bandung nanti ku tak cariin lahang.

      Delete