Sosial Branding Ala Pejabat, Dimana Pun Selalu Ada Bayanganmu

Photo by Mathias Lövström on Unsplash

Kita harus sepakat bahwa Indonesia adalah negara penghasil kreator meme terkreatif hari ini. Dalam hitungan jam saja ribuan meme mampu tersaji dan langsung menjadi trending tropik di jagad maya. Kabar baiknya lagi kita kedatangan tokoh meme teranyar yakni Bupati Klaten, Sri Mulyani. 

Semua berawal dan mulai ramai ketika pemberitaan soal pembagian handsanitizer yang ditempeli foto sang bupati. Netizen semakin murka ketika kala mengetahui bahwa foto itu ditempel ditempat yang salah, karena di balik foto tersebut terselip nama Kemensos.  

“Bupati Klaten seharusnya malu. Semalam kita diramaikan oleh beredarnya foto handsanitizer berstiker “Bantuan Bupati Klaten” dan ketika dilepas ternyata itu bantuan dari KEMENSOS? Lalu bagaimana anggaran pengadaan handsanitizer,” tulis akun twitter @MahasiwaYUJEM

Tak cukup sampai di sana, netizen Indonesia yang memiliki kemampuan setingkat detektif conan, mengungkapkan temuan baru yang tak kalah mengejutkan. Seperti akun @wnfrr yang mengungkapkan kalau apa yang dilakukan sang bupati bukan kali ini saja. “Sudah beberapa kali Bupati Klaten memanfaatkan kesempatan untuk mem-branding dirinya sendiri. Seperti di masker dan plastik sembako,” tulisnya. 

Tentu kita tak boleh mencibir atau menjudge bu Sri Mulyani sebelum kita intropeksi diri sambil melihat seberapa banyak foto fose wajah diri sendiri di hape dan di hape sang pacar. Apalagi ini bulan puasa dan negara kita yang harus mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Merespon kontroversi ini, Bu Sri Mulyani meminta maaf dan membuat klarifikasi. Menurutnya ini hanya salah penempelan, pasalnya bantuan dari Kemensos cuma seribu botol sementara bantuan handsanitizer dari Pemkab Klaten mencapai puluhan ribu. Sehingga ia menduga ada kesalahan dalam penempelan stiker.   

“Sudah saya klarifikasi. Ada kekeliruan di lapangan (dalam penempelan stiker). Di lapangan mungkin ditempelin semua. Kejadiannya seperti itu,” sebagaimana diwartakan kompas.

Dari penjelasan bupati Klaten itu, permasalahan ini hanya masalah kekeliruan saja yang dilakukan oleh segelintir orang. Tetapi kamu percaya dengan hal itu? Setelah melihat rekam jejak bundanya warga Klaten itu.  

Apa yang kita lihat dan komentari sekarang adalah buah dari sistem demokrasi. Dua puluh empat abad yang lalu Aristoteles pernah berujar bahwa sistem ini memiliki sejumlah kelemahan diantaranya ialah melahirkan demagog dan narsisme.

Demagog adalah pemimpin yang pintar membuat citra baik demi kepentingan dirinya sendirinya dalam hal ini tujuan kekuasaan. Sementara secara terminologi demagog berasal dari bahasa Yunani, yakni demos yang berarti rakyat, dan agogos berarti penghasut (pemimpin).  

Aristoteles menggambarkan demagog sebagai pengganggu, serangga yang tak dapat Anda lepaskan padahal dia memiliki sengatan pahit. Dan mungkin ini juga yang dirasakan oleh orang Klaten. Sebagaimana informasi yang saya baca, sudah hampir dua puluh tahun pangku kekuasan politik Klaten dipegang oleh satu keluarga. Mungkin saja kecintaan orang Klaten kepada keluarga bu Sri Mulyani begitu tinggi.


Kelemahan kedua adalah narsisme, yakni perasaan selalu ingin tampil di depan publik serta memuji diri sendiri secara berlebihan. Dalam konteks politik para narsisme seolah-olah mereka merasa telah berhasil dan berjasa bagi rakyatnya dengan program yang mereka jalankan.  

Persoalan narsisme oleh pejabat bukanlah hal yang baru. Mulai dari pejabat tingkat paling rendah paling tinggi melakukan hal serupa. Dan hanya beberapa politisi saja yang merasa risih dengan hal serupa, itu pun mereka yang telah terbukti rekam jejaknya diantaranya walikota Surabaya, Bu Risma.

Sudah puluhan hingga jutaaan kali mata kita terpapar oleh polusi narsisme pejabat. Mulai dari spanduk seminar program hingga baliho segede gaban dalam kontestasi politik. Mereka selayaknya bintang iklan, tetapi bintang iklan yang salah posisi.

Lantaran gambar mereka menghalangi konten atau tulisan terkait program yang hendak disampaikan. Kalau pun isi program tersampaikan dan terbaca secara baik tetapi gambar mereka tidak relevan dengan programnya. Gimana toh?

Kendati begitu, harus diakui pada kenyatannya praktik narsisme pejabat selalu berhasil merebut pangsa pasar demokrasi. Pasalnya masih banyak para politisi yang enggan memberikan edukasi politik, sehingga pada pemilu, sebagian masyarakat memiliki kecendrungan memilih gambar wajah calon pejabat yang sudah familiar.

Tentu narsisme pejabat menjadi salah ketika mereka sudah menggunakan dana negara untuk kepentingan dirinya sendiri. Seharusnya pejabat lebih mengutamakan kinerja ketimbang mejeng di depan publik, terlebih di situasi seperti sekarang, di mana rakyat kecil benar-benar butuh bantuan dari para pemimpinnya.

Sebaik-baiknya sosial branding pejabat adalah dengan program nyata yang dirasakan manfaatnya serta diselingi narsisme secukupnya. Karena sesekali rakyat perlu tahu dengan wajah pemimpin mereka. Ketika wajah pejabat terlalu banyak terpampang, ia sudah seperti tokoh meme yang banyak digunakan di jagad maya.

Melesatkan sedikit lirik lagu dangdut berjudul Ada Bayangmu. Kemana pun ada bayanganmu, di mana pun ada bayanganmu, di semua waktuku ada bayangamu, pejabatku. 

Share:

0 Comments