Sarung Indie Asal Majalaya



Mendekati hari raya lebaran, kami sekeluarga hampir selalu mendapatkan kiriman sarung. Entah itu dari rekan kerja ayah atau dari saudara yang kebetulan menggeluti usaha tekstil khususnya kain sarung. Mayoritas sarung yang kami terima bukanlah brand terkenal tapi sebuah brand lokal atau indie.

Kain sarung itu berasal dari Majalaya, sebuah wilayah di Bandung Selatan, secara administratif termasuk ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sangat mudah untuk mengenali kain sarung indie Majalaya. Motifnya monoton kotak-kotak atau perpaduan lurik horizontal-vertikal, serat benangnya cendrung kasar dan bila diajak tidur akan mudah berbulu. 

Saya tentu bersyukur atas Tunjangan Hari Raya (THR) berupa kain sarung. Pasalnya saya bisa mengalokasi dana yang tadinya untuk beli sarung ke sektor lain seperti beli sendal Fila atau Bata. Saya pun tak sungkan untuk memanjangkan mata rantai pahala si pemberi sarung. Andai sarung yang saya terima terlampau banyak, saya akan menyalurkannya lagi kepada kerabat yang datang ke rumah, dengan begitu semakin banyak kebaikan yang mengalir untuk kamu, saya, dan si pemberi sarung.

Namun ada anggapan bahwa tak elok bila barang pemberian dari orang malah di kasih lagi ke orang lain. Nanti dikira tak tahu terima kasih, saya paham dengan hal itu, tapi itu hanya persepsi sosial yang kadang bikin kita gagap. Patut diketahui bahwa kita perlu menimbangkan keberdayaan nilai sebuah barang daripada rasa tidak enak. Jika barang itu bisa berguna lebih banyak bagi orang lain kenapa tidak dikasih saja. 

Kembali ke sarung, saya dan barang ini bagai kerabat dekat. Alasannya bukan karena saya santri dan sering pakai sarung untuk shalat, tapi saya tumbuh dan besar di daerah Majalaya, di mana salah satu sentra produksi kain sarung di Indonesia. Saya masih ingat bagaimana deru mesin tekstil yang meruntuhkan kotoran di telinga, bau pewarna kain yang menyengat ke hidung hingga kain sarung yang menjadi sumber penghidupan masyarakat banyak termasuk saya.

Berbicara perkembangan kain sarung di Indonesia. Mau tidak mau harus menyinggung Majalaya. Sebagaimana dilansir dari wawasansejarah.com, pada tahun 1929 pabrik tenun besar untuk pertama kalinya didirikan di Majalaya. Pabrik itu memiliki 30 alat tenun. Alat tenun yang digunakan saat itu ialah produksi Institut Tekstil Bandung (TIB) yang didirikan G. Dalenoord pada tahun 1922.

Geliat laju tekstil di Majalaya mengalami perkembangan naik turun, mengingat saat itu sektor ini masih dipandang sebelah mata dibandingkan sektor perkebunan yang menjadi komoditas utama. Memasuki awal 1940-an, para penguasa Tionghoa mulai merambah ke bisnis ini.

Namun jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942 membuat industri tekstil mengalami kemunduran. Para pengusaha saat itu dipaksa untuk memproduksi karung gunny dibanding kain sarung yang menjadi komoditas utama. Bahkan menjelang tahun 1944, banyak alat tenun yang dirampas oleh Nipon untuk dikirim ke negara lain seperti Malaya, Burma. 


Setelah kemalangan terbitlah kesenangan. Benar saja, tak memakan waktu lama para pengusaha tekstil Majalaya bangkit. Masa keemasan bagi Majalaya terjadi pada tahun 1950-an sampai 1960-an, di mana Majalaya menyumbang 40% dari total produksi tekstil di Indonesia. Pencapaian itu menyebabkan kota Majalaya disebut sebagai kota Dollar dan tahun-tahun tersebut merupakan masa keemasannya (Antlov dan Svensson, 1991:118).

Pasca julukan tersebut diraih, hingga kini Majalaya tak pernah lagi menjadi kota dollar. Terlebih di masa serba sulit seperti sekarang, di mana pandemi covid-19 meruntuhkan segala sektor. Dari berita lokal yang saya baca, kabaryan para pelaku industri kreatif kain sarung mengeluh pemasarannya pada ramadan kali menurun drastis. Barang menumpuk di gudang. Padahal bulan ramadan adalah bulan harapan untuk menghabiskan barang dagangan. Namun apa daya realitas berkata lain. 

Saya pun semakin sedih kala orang-orang lebih mengenal Majalaya karena banjir dan debu yang menyelimuti daerahnya. Padahal daerah ini masih menyimpan potensi untuk kembali harum dan bernilai sebagaimana nilai mata uang dollar di bursa efek Indonesia. Naik naik dan naik.

Jangan lupa lihat sarungmu, mungkin itu berasal dari Majalaya. 

Share:

0 Comments