Cinta Seperti Perangko, Awas Terjebak Jadi Pasangan Clingy



“Nempel terus kaya perangko.”

Pasti kamu sudah tak asing dengan ucapan tersebut. Ucapan yang sering terlontar atau tertuju kepada mereka kawula muda yang menyandang predikat pasangan baru. Pasalnya sebagian besar mereka yang masuk golongan ini hampir selalu menghabiskan waktu bersama-sama dengan pasangannya, entah itu untuk jalan-jalan atau berkegiatan lainnya.

Saya harus mengamini bahwa menjadi pasangan baru adalah fase yang sangat manis. Pada fase ini kita seperti dimabuk cinta, membuat dunia serasa milik berdua. Tak peduli di luar terjadi apa, selama ada pasangan di sisimu sudah merasa aman dan tentram.

Tentu tidak ada yang salah dengan menghabiskan waktu bersama pasangan. Namun mulai menjadi masalah jika salah satu mulai merasa risih dan merasa memiliki ketergantungan berlebih. Sehingga mulai mengganggu keharmonisan hubungan. Tahap ini biasanya muncul ketika hubungan sudah berjalan lama, dan mungkin secara tidak sadar pasangan kita memiliki sifat clingy.

Apa itu clingy? Merujuk pada urbandictionary.com, clingy memiliki arti seseorang yang terobsesi dengan orang lain atau pasangannya di mana ia tidak ingin meninggalkannya dan ingin menghabiskan waktu bersama terus menerus.   

Sementara dari beberapa informasi lain, saya mendapatkan bahwa clingy adalah sikap seseorang yang ingin selalu dekat atau nempel terus dan bergantung pada orang lain atau pasangannya. Perilaku ini bisa dimiliki oleh siapa saja entah itu pria dan wanita.

Sikap ini lahir karena dilatarbelakangi faktor dalam diri seperti rasa ketidaknyamanan dan ketidakpercayaan diri pada dirinya sendiri sehingga secara berlebihan membutuhkan seseorang yang selalu dekat dengannya. Rasa tidak nyaman dan tak percaya diri ini bisa muncul lantaran pengalaman masa lalu yang mengecewakan, atau pengalaman traumatis yang menimbulkan ketakutan, kemarahan dan sebagainya.

Harus diakui pengalaman masa lalu terutama apa yang terjadi di rumah sering kali mempengaruhi kondisi mental seseorang ketika menginjak dewasa. Saya pernah mendengar cerita dari kawan yang masa kecilnya mendapatkan perlakuan kasar oleh ayahnya, terutama ketika melakukan kesalahan. 
Ketika dewasa ia bisa sangat marah dan histeris ketika di lingkungan sekitarnya mendapatkan suara keras atau teriakan. Ia reflek untuk berteriak balik sambil meminta teriakan tersebut dihentikan. Padahal suara keras tersebut bukan ditujukan untuk dirinya.  
 
Kembali kepada clingy, pada prakteknya seorang yang clingy hampir menyerupai sikap posesif, di mana menunjukan perilaku over dependency (ketergantungan yang berlebih), dan ingin menguasai pasangannya. Kendati begitu yang jadi pembeda adalah latar belakang yang mendasarinya berupa faktor eksternal, yakni tidak percaya kepada pasangan.

Pasangan clingy biasanya kerap menanyakan kabar dan selalu ingin ngobrol dengan pasangannya. Dia mengirim berpuluh-puluh pesan melalui aplikasi chating, memenuhi kolom komentar di sosial mediamu hingga menelpon setiap saat hingga kupingmu merasa panas.

Tentu kita sepakat bahwa komunikasi adalah pondasi dalam membangun relasi atau hubungan. Namun komunikasi secara berlebih dan hingga muncul kesan terlalu obsesi untuk mendapatkan balasan akan menjadi toxic dalam sebuah relasi.

Menjadi lebih kacau lagi jika pasanganmu memiliki kecenderung untuk menggeledah isi smartphone tanpa minta izin. Mulai mengecek semua isi percakapan di whatsapp, melihat isi sosial mediamu dan mulai mengintrogasi dengan tendensi curiga.  

Selain menyoal pola komunikasi, ruang gerak terancam menjadi terbatas. Pasalnya pasangan clangy itu seperti parasit. Menempel dan harus selalu ikut dalam setiap aktifitas pasangan. Tentu dalam beberapa aktifitas kita mememerlukan pasangan tapi di aktifitas lain kita perlu waktu sendiri. Entah itu untuk merenung atau menyalurkan hobby.

Sebagaimana pasangan pahlawan Batman dan Robin. Batman tidak harus selalu menumpas kejahatan di kota Gotham bersama Robin. Ada kalanya ia harus bergerak mandiri. Karena mesti diketahui Robin juga memiliki pekerjaan lain, jadi lebih bagus bila ia datang disaat yang krusial saja.

Dan pasangan clingy cenderung untuk mulai menuntut untuk menjadi apa yang ia minta sesuai dengan obsesi di kepalanya. Padahal permintaan tersebut bukanlah sebuah Undang-Undang yang disahkan DPR secara sepihak dengan dalih demi kebaikan rakyat.    

Menurut Dr. Ina Sarawaswati, staf pengajar di bagian Psikologis Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyatakan bahwa sikap clingy bukan perilaku menyimpang tetapi lebih tepat dikatakan sebagai perilaku yang dipandang negatif karena bersifat berlebihan karena dapat mengganggu relasi dengan seseorang atau pasangan.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui kadar clingy masing-masing. Apa masih dalam tahap wajar atau sudah mengganggu sebagian rutinitas sehari-hari dan juga orang lain atau pasangan. Menjadi penting juga bagi setiap pasangan untuk menetapkan batasan-batasan jelas yang didasari kesepakatan bersama.  

Tentu kita harus menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang pasti memiliki ketergantungan dengan sesamanya. Akan tetapi mampu bersikap mandiri adalah sebuah keharusan terlebih di era sosial yang sedang tak mementu arah.

Terlebih harus diingat sebelum ada pasangan, kita mampu hidup mandiri dan semua berjalan baik-baik saja. Jadi hubungan yang sehat yang sehat adalah jika mampu menyeimbang kedekatan dan mampu bersikap secara mandiri. Dan ingat carilah pasangan yang mampu berkembang bersama bukan hanya berkembang biak saja.

*Ilustrasi gambar oleh Pana Kutlumpasis dari Pixabay

Share:

0 Comments