Kisah Si Byson Yang Terlupakan Layaknya Mantan

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash
Yamaha Byson 150 cc, motor dengan tampang gahar, kekar tapi ringkih dari dalam dan mulai dilupakan seperti mantan.

Memiliki motor sport adalah impian saya dari dulu. Saya selalu membayangkan memakai motor sport dengan helm fullface, berlenggak-lengkok seperti Valentino Rossi di ajang Moto GP. Namun impian saya itu selalu terkendala mengingat harga baru motor sport cukup tinggi. Teramat tinggi bagi saya yang berpenghasilan di atas UMR sedikit.

Sebenarnya ada dua alternatif yang bisa saya tempuh. Pilihan pertama mengajukan cicilan meskipun bakal membuat hidup saya tak tenang, lantaran dihantui debt collector. Kedua membeli motor sport bekas dari pemilik yang lagi BU (butuh uang). Namun untuk pilihan kedua diperlukan kesabaran dan setitik keberuntungan, karena tak semua penjual motor tengah BU tapi tengah mencari untung.

Setelah berpikir keras dan bemusyawarah secara mufakat dengan orang tua. Akhirnya saya memutuskan membeli motor sport bekas secara cash dari pemilik yang tidak BU. Meninjau budget hasil pengumpulan dan sedekah dari orang tua, terdapat dua pilihan yakni Honda Megapro atau Yamaha Byson karburator.

Menimbang dari segi harga, Honda Megapro lebih tinggi daripada Yamaha Byson. Selain masalah harga yang tidak cocok, menurut saya Megapro tuh terlalu kebapak-an, terlebih saya melihat motor ini kerap dipakai para orang tua berstastus PNS (termasuk paman saya) atau pengendara ojek pengkolan pasar yang sering menerima order ngangkut sayur.

Saya sedikit heran dengan murahnya harga Yamaha Byson. Kabarnya harga yang teramat murah itu dikarenakan minat masyarakat terhadap motor ini sangat minim. Konon motor ini memiliki sejumlah masalah sehingga tidak menjadi pilihan pertama. Tetapi bisa menjadi pilihan awal bagi pengendara yang mencoba hirjah dari motor bebek ke motor sport.    

Motor Byson memiliki aura motor besar. Hal tersebut tercermin dari perawakan yang besar, suspensi type monocross, ban tebal maka tak salah jika nama kuda besi ini Byson. Saya sebagai orang yang lebih kepincut tampang luar daripada dalam tentu akan memilih Yamaha Byson.  

Secara pamor pun Byson kalah bersaing dengan saudaranya yang bercc sama, V-ixion. Sejak kemunculannya V-ixion sudah mengadopsi teknologi injeksi yang membuat ruang mesin berpacu lebih efektif sehingga konsumsi bahan bakar lebih efektif dan tarikan lebih bertenaga.

Namun soal keiritan saya pikir Byson cukup irit, rata-rata pemakaian satu liter bisa menempuh 40 km untuk type karburator. Daya tampung bahan bakar yang bisa mencapai 12 liter membuat saya jarang mampir ke SPBU. Kalau dihitung-hitung saya hanya singgah satu kali dalam seminggu untuk memberi minum si Byson. Itu untuk pemakaian dalam kota saja.

Untuk perkara tenaga, saya terpaksa setuju bahwa motor Byson memiliki tarikan yang loyo. Terutama di tarikan awal. Pernah saat itu, saya berhenti di lampu merah, sebelah saya ada motor beat. Ketika lampu hijau, si Byson kalah start dibanding motor beat yang miliki tagline si gesit irit. Sementara si Byson memiliki filosofi ‘Keperkasaan Tiada Tanding’ sehingga soal tenaga adalah hal lain. Oleh karena itu saya tak kuat dan berani membandingkan kecepatan dengan motor sport lainnya.
    
Untuk mengatasi hal tersebut, saya membobok knalpot yang diharapkan tenaga si Byson tidak ngeden, tapi resikonya suara knalpot lebih bising, tapi kalau mata merem serasa motor moge loh. Masalah lain yang muncul adalah motor saya menjadi tak ramah lingkungan dan polisi. Pernah satu ketika saya kena tilang lantaran knalpot yang tidak standar.  

Akan tetapi pasca dibobok, tenaga yang dikeluarkan tidak terlalu signifikan, mungkin sedikit naik daripada sebelumnya. Berdasarkan riset dari internet, kabarnya saya harus mengganti karburator Byson dengan Scorpio Z agar lebih gahar. Namun saya mengurungkan niat karena terbatasnya budget sehingga saya harus lebih sabar dengan si gemuk yang loyo ini.

Saya pun sering mengobati diri dengan cara berpikir bahwa berkendara di kota yang lebih sering macet daripada lengang lebih membutuhkan irit daripada tenaga. Akan tetapi obat itu hanya fana di kala momotoran ke luar kota saya haus akan gas kencang apalagi di jalanan sepi. Seperti kata teman saya bahwa membawa motor sport selalu ada keinginan untuk ngebut. Yah saya setuju dengan hal itu.
 
Masalah mulai muncul ketika pemakaian tahun kedua. Si Byson bekas yang saya beli sudah tergolong tua, usianya hampir menyentuh 9 tahun. Si Byson mulai sering meronta dan ngadat. Pernah suatu ketika saya yang tengah pulang dari Bandung ke Majalaya, si Byson ngadat, mati mendadak di jalan. Saya pikir habis bensin, ternyata tidak. Dengan berat hati dan beratnya si Byson, saya mendorongnya. Beruntung malam itu, saya mendapatkan step dari pengendara lain sampai rumah.

Besoknya si Byson dibawa ke bengkel, ternyata masalahnya ada di kampas kopling yang sudah haus. Saya pun harus menggantinya dengan milik scorpio z lantaran stok kampas Byson di bengkel itu kosong.   

Pada fase ini akhirnya saya menyadari bahwa membeli motor sport bekas itu seperti membeli kucing dalam karung. Selalu ada resiko yang akan ditanggung si pembeli entah itu harus ganti onderdil hingga perbaikan besar-besaran. Meskipun begitu saya tidak terlalu kecewa karena dengan hal itu saya setidaknya jadi lebih tahu soal dunia si kuda besi.

Selain kalah teknologi dari V-ixion, ternyata si Byson kalah terkenal juga dengan motor sport lama keluaran yamaha yaitu Scorpio. Motor Scorpio sudah lebih dulu beredar sejak tahun 2002. Ini terbukti dari kawan saya yang lebih mengenal Scorpio daripada Byson. Padahal di motor Byson saya sudah jelas tertera tulisan Byson.

“Motor maneh teh Scorpionya?

“Bukan, motor urang Byson”

“Lah urang kira Scorpio”

Oleh karena itu boleh dikatakan Byson seperti motor yang terlupakan, sosoknya kala bersaing dari V-ixion dan tak selegendaris Scorpio. Meskipun begitu saya tetap bangga dengan si Byson karena kiwari sudah sangat jarang menemukannya di jalanan. Kalau pun ada bisa dihitung jari.

Sehingga saya boleh lebih berbangga karena si Byson menjadi kuda besi langka yang hampir punah. Sebagaimana Byson di Afrika yang mulai terancam dari kepunahan. Punah ko bangga. Byson pun bukan mantan yang layak di lupakan. Mari pengguna Byson bersatu.


Share:

0 Comments