Kambing Hitam

Image by Kira Hoffmann from Pixabay 
Banyak perkataan dalam bahasa Indonesia berasal dari suatu perkembangan analogi atas model pengajaran tertentu, terutama yang bertalian dengan etika, yang melintas ke sini melalui para pemakai bahasa asing dari negeri-negeri yang telah maju kebudayaannya. Salah satu perkataan yang menarik disimak tentulah kambing hitam: sebuah istilah yang di dalamnya terkandung pengertian tentang kesalahan di luar diri dan dengannya digunakan sebagai cara untuk menahirkan diri. Dikatakan menarik sebab orang Indonesia yang empunya istilah ini kelihatannya paling lihai dalam merekayasa siasat untuk menunjukan kambing hitam.

Perkataan ini sendiri belum terlalu tua, lahir sebagai elusidasi atas pewartaan Torah–kitab Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu tinggi oleh Leijdecker pada tahun 1701–melalui pegangan terjemahan Belanda yang sudah ada sejak tahun 1619. Kambing hitam, yang direalisasikan dengan kambing kurban, secara khas tersua dalam kitab ketiga Torah–lazim dalam pelbagai terjemahan bahasa-bahasa Barat disebut Leviticus–menyangkut kisah tentang Harun. Orang ini ditugaskan mempersembahkan dua ekor kambing dengan mengundinya terlebih dulu: yang satu untuk Tuhan, yang satunya lagi untuk Azazel.

Pada umumnya semua bahasa Barat, terkecuali antara lain Perancis dan Spanyol, menerjemahkan perkataan bahasa Ibrani azazel sebagai sebuah pengertian afinitif yang dikaitkan dengan kesalahan dan kejahatan. Terjemahan Belandanya, yang notabene mempengaruhi analogi yang dimaksud, dibuat di bawah sinode nasional Staten-General der Verenigde Nederlanden, adalah "Aaron zal de loten over die twee bokken werpen: een lot voor den Heere, en een lot voor den weggaande bok". Perkataan den weggaande bok diterjemahkan dari kata Ibrani azazel yang secara berarti 'kambing yang telah pergi atau terhilang'. Dalam bahasa Belanda bok atau bokken selain berarti kambing, juga mengandung arti kesalahan dan kebodohan. Dari makna itulah bahasa Indonesia menyerapnya dan mengembangkannya.

Dalam terjemahan Inggris, terbit tahun 1611 dan disebut versi Raja James, azazel adalah scape-goat. Teksnya: "Aaron shall cast lots upon the two goats: one for the Lord, and the other lot for the scape-goat." Tentang scape-goat, Enchol dan Shadily dalam Kamus Inggris-Indonesia menyebutnya 'sebab kesalahan' atau 'korban'. Dengan mengacu ke situ boleh dikata bahwa terjemahan Inggris atas kata azazel juga berhubungan dengan analogi yang tumbuh di atas acuan teoritis etika dengan elusidasi makna yang khas. Sebetulnya scape-goat, seperti dikatakan Bacon dalam Encyclopedia Americana, tak kurang kambing untuk Azazel dan, memang, biasanya hitam. Namun, jalan harfiah untuk memahami azazel sulit dicapai dengan memuaskan dalam bahasa-bahasa Barat, mengingat leluri Semit secara umum dan Ibrani secara khusus menyangkut etika agamawi, tidaklah sederhana dalam jangkauan Barat yang waktu itu kafir. Itu sebabnyam terjemahan Perancis dan Spanyol atas perikop ini tampak lebih aman. Terjemahan Perancisnya, "Aaron jettera le sort sur les deux boucs, un sort pour I'Eternel et un sort pour Azazel." Terjemahan Spanyolnya, "Y echara Suertes Aaron sobre los dos machos cabrios; una suerte por Jehova, y otra suerte por Azazel."

Sebetulnya apa dan siapa Azazel yang dianalogikan sebagai korban kesalahan ini? Easton dalam Illustrated Bible Dictionnary mengatakan, "Sebagian orang menganggapnya roh jahat atau setan," Namun, Davidson dalam A Dictionnary of Angels menyebutkan, "Salah satu pemimpin 200 malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa,"

Sebagai istilah, kambing hitam pertama digunakan dalam pengajaran bahasa Melayu di sekolah zending Belanda abad ke-19 di Maluku. Salah seorang guru yang sangat terkenal adalah Josef Kam. Mula-mula ia bekerja di Semarang, lalu mengajar bahasa Melayu seraya merasul di Ambon dengan pola Pietisme. 

Kompas, 1 Desember 2001

Ditulis oleh Remy Sylado untuk rubrik bahasa Kompas yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Inul Itu Diva, Kumpulan Rubrik Bahasa Kompas.  Remy sebaagai seniman andal telah menghasilkan buku Dasar-dasar Dramaturgi (1981), Menuju Apresiasi Musik (1983), Mengenal Teater Anak (1984), Seni Akting, dan Ensiklopedia Musik (1989).

Share:

0 Comments