Rambut Orang Ko Diurusin


Sonic Rendezvous band | Photo credit to detroitrocknrollmagazine.com
Sudah sangat sering saya mendengar rambut adalah mahkota seorang wanita. Tapi rasanya slogan itu sudah tak relevan lagi di zaman now. Buktinya di zaman now banyak para pria yang mengurus dan menata rambut sedemikian rupa. Ini terlihat dari semakin tumbuh suburnya barbershop dan beragam jenis pomade sesuai jenis rambut.
Menata rambut memang sangat penting, sebab menjadikan kamu lebih stylish dan percaya diri. Saking percaya dirinya rambut berkilaumu menyodot perhatian warga sekitar. Dan tentunya peranan rambut bagi pria masa kini, bukan lagi sebagai pelengkap dari gaya pakaian saja. Tapi sudah menjadi sebuah identitas dari seseorang yang ingin ditunjukan kepada khalayak ramai.  
Maka tak khayal gaya rambut bisa menjadi sorotan terutama bagi mereka yang pernah menjadi tokoh publik. Sebut saja namanya Sigit Purnomo Syamsudin alias Pasha “Ungu” yang sekarang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu. Penampilannya di sebuah acara bertajuk selebriti politik dengan rambut yang dikuncir dan bagian bawahnya yang pangkas abis menjadi sorotan.
Maka seketika saja setelah beres acara Pasha panen kritikan terhadap gaya rambutnya dari berbagai pihak dan lapisan masyarakat. Banyak yang mengkritik dan menyayangkan gaya rambut Pasha yang tidak pantas terutama bagi dia yang sekarang menjabat Wakil Wali Kota. Terkadang saya sedikit heran di zaman yang super cepat masih ada saja orang yang mempunyai waktu luang untuk mengomentari gaya rambut seseorang. Padahal jelas gaya rambut yang dipilih bagian kecil dari demokrasi. Selama tidak merugikan orang lain dan tidak mengganggu kinerja kerjanya, sah-sah saja.
Sadar dengan banyaknya kritikan terhadap gaya rambutnya, tak menggoyahkan keteguhan hari seorang Sigit. Ia malah dengan sadar berterima kasih kepada masyarakat, mengatakan gaya rambut yang dikuncir ini agar ia terlihat rapi dan dia pun beranggapan gaya rambutnya tak melanggar peraturan mananpun.
Tentu ihwal campur tangan orang lain dan peraturan terhadap gaya rambut mengingatkan saya pada buku “Dilarang Gondrong” karya Aria Wiratma Yudhistira. Buku yang sejatinya adalah skripsi Yudhistira dalam menyelesaikan studinya di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Tema yang diangkat sangat menarik yakni ihwal rambut dan pengaruh kondisi sosial politik di masa Orde Baru.
Di tahun 70-an rambut gondrong menjadi lambang pergaulan dan penanda tren bagi anak muda. Sayangnya tren gaya rambut gondrong mengundang polemik dengan Orde Baru. Razia-razia terhadap rambut gondrong mulai digelar dibanyak kota. Bahkan tak cuma kaum Adam, kau Hawa pun terkena getahnya, di mana tak boleh sembarang tempat mengurai rambut panjangnya dan memamerkan kegondrongannya.
Ketakutan akan pria-pria gondrong dimulai ketika banyaknya pengaruh Barat yang datang sejalan dengan dibukanya jalur-jalur investasi bagi kapitalis asing. Gaya rambut gondrong simbol dari budaya hippies dan musik rock dari Barat. Maka rambut gondrong melekat dengan citra negatif karena sarat dengan budaya populer Barat yang penuh dengan kebebasan, seks bebas, penggunaan narkotika. 
Citra negatif ini semakin nambah negatif kala ditambah bumbu dari film-film yang menjadikan tokoh pria gondrong sebagai seorang penjahat dan harus dilawan. Tak hanya itu di dunia nyata pria berambut gondrong  tak akan dilayani jika akan mengurus administrasi yang berhubungan dengan aparatur negara.
Padahal gondrong itu baik lihat saja pada masa revolusi Ali Sastromidjojo (1794:198) dalam otobiografinya menggambarkan pemuda yang berambut gondrong dengan gayanya yang urakan sebagai kekuatan revolusi di Yogyakarta pada awal tahun 1946.
Maka tak heran jika melihat mahasiswa berambut gondrong selalu diidentikan dengan aktivis. Karena di zaman orde baru merekalah yang paling depan dan bersuara lantang mengkritik setiap kebijakan pemerintah. Bahkan lahirnya reformasi di negeri ini ada andil dari si pria-pria gondrong.   
Jadi jika masih ada yang mempermasalahkan gaya rambut seseorang di zaman yang katanya sudah demokrasi, ia masih hidup di masa kelam. Jangan sampai kita mengulangi masa lalu yang mengekang kebebasan berekspresi: gaya rambut. Sebab selama kebebasan ekspresi itu tak mengganggu kebebasan orang lain, tak melanggar peraturan dan tak mengganggu kinerjanya itu masih dalam tahap yang wajar dan sesuai koridor.
Cukup hanya tukung cukur yang mengatur gaya rambut sebab dia dibayar untuk itu dan hanya guru BK saja yang punya hak untuk merazia dan menyuruh muridnya berambut cepak. Selain golongan itu mari kita mengamalkan petuah pak Jokowi. Di mana isi waktu berharga kita dengan kerja, kerja, kerja.    
Jadi mau rambutmu gondrong, kuncir atau kribo yang penting kerja toh.

Share:

0 Comments