Upaya Menebar Virus Literasi

ASM Ariyanti Bandung
Literasi Generasi Muda Photo ASM Ariyanti
Pernahkan kita bertanya seberapa dekatkah kita dengan literasi? Atau kita tak pernah tahu apa itu literasi. Literasi mungkin bagi sebagian orang terbatas dengan hal-hal yang berhubungan dengan buku. Padahal makna dari literasi sangatlah luas. Literasi adalah soal menulis, membaca dan memahami konteks, bahkan membaca keadaan sekitar bisa dikatakan sebuah bentuk literasi.
Di era internet kemudahan untuk mendapatkan bahan bacaan sangatlah mudah. Hanya dengan mengetik keyword yang diinginkan maka kamu akan segera mendapatkannya. Namun ini juga berbahaya, banyaknya informasi yang datang membuat kita tak pernah mendalami apa yang kita baca. Sebab yang berbahaya di saat sekarang adalah lebih banyak berkomentar daripada membaca buku. Literasi seperti apakah yang diinginkan oleh generasi muda?
Berawal dari kegundahan itulah pada hari kamis 14 Desember 2017 saya mengikuti kegiatan seminar bertajuk Literasi Generasi Muda “Menebar Virus Literasi” yang diselenggarakan oleh Akademi Sekretari dan Manajemen Ariyanti Bandung. Saya penasaran dengan paradigma generasi muda untuk melihat dan memahami literasi dan langkah seperti apa yang sesuai dengan kondisi sekarang untuk menebarkan virus literasi.
Terlebih kegiatan ini diselenggarakan di kampus, yang pastinya kampus tak bisa dilepaskan dengan dunia literasi. Semua aktifitas mahasiswa mau tidak mau pasti akan bersinggungan dengan literasi. Maka sangat diharapkan instansi pendidikan seperti kampus menjadi permulaan untuk menyebarkan semangat literasi.
Kegiatan  seminar ini mengundang para pegiat literasi diantaranya Jagat Wijaksono sebagai pengelola Komunitas “Ngampar Boekoe” yang aktif mengajak masyarakat berliterasi dan membuka lapak-lapak buku di Kota Cimahi. Kemudian ada pegiat literasi Aulia Akbar yang sedang menekuni profesi sebagai design grafis, merangkap sebagai penulis puisi dan terakhir ada Mbak Theoresia Rumthe penulis buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Perempuan Sore.
Dalam seminar ini Jagad dan Aulia mengatakan bukan hal mudah untuk mengajak generasi muda untuk bergiat dengan literasi. Generasi muda yang lahir berbarengan dengan internet membuat mereka lebih akrab dengan internet daripada buku. Mungkin zaman dulu untuk mendapatkan sebuah bahan bacaan memerlukan perjuangan ekstra, harus mencari dari perpustakaan ke perpustakaan atau meminjamnya ke teman. Sehingga ketika mendapatkan buku yang diinginkan, kita akan benar-benar membaca dan memahaminya. Berbeda dengan zaman sekarang yang terasa sangat mudah untuk mendapatkan bahaan bacaan, sehingga apresiasi terhadap bacaan berkurang atau memang kemudahan-kemudahan yang diberikan teknologi telah membuat generasi terbaru lebih malas. 
Namun kemajuan teknologi bukan hal yang bisa dihindari atau menjadi alasan mandetnya dunia literasi. Justru kemajuan harus bisa dijadikan media untuk lebih mengobarkan semangat literasi. Dengan bantuan teknologi bisa menebarkan virus literasi ke setiap penjuru tak terbatas ruang dan waktu. Dapat dikatakan generasi muda sudah akrab dengan teknologi bernama sosial media. Ini bisa menjadi peluang untuk mengupayakan literasi lewat sosial media. Salah satunya dengan latihan menulis dari caption ig. Sebab ig dirasa cukup efektif untuk menjangkau generasi muda. Selain caption ig, geliat media daring untuk menyebarkan artikel berkualitas sudah banyak bermunculan.  
Meskipun teknologi berkembang pesan, teks masih menjadi media utama untuk berliterasi. Sehingga upaya untuk menebar literasi yakni dengan menulis kemudian membagikan tulisan kita. Menulis sebuah ekspresi dari dalam diri yang mampu menggugah seseorang. Menulis memang tidak mudah, menulis harus dibiasakan dan banyak latihan. Terlebih untuk menulis butuh konsistensi dan jangan jadikan menulis sebagai beban.
Dalam acara ini Mbak Theo penulis buku Perempuan Sore menjelaskan bahwa dirinya tak pernah merasa bosan dengan menulis. Sebab baginya menulis adalah sebuah kesenangan, adapun kesenangan itu bisa menghasilkan uang adalah bonus. Tentunya menulislah untuk menyenangkan diri sendiri jangan untuk menyenangkan orang lain. Ini bisa menjadi point penting terutama bagi para penulis pemula.  
Ia merasa yang paling menakutkan di dunia ini adalah hilangnya kegelisahan dari hidupnya yang membuat ia tak akan bisa lagi menulis. Saya setuju dengan pernyataan mbak Theo. Penulis lahir dari kegelisan yang menimpa dirinya atau lingkungan sekitarnya. Makanya seorang penulis yang sukses adalah penulis yang peka dengan lingkungannya dan menuangkan kegelisahannya menjadi sebuah tulisan.
Mbak Theo selaku pembicara utama dalam kegiatan ini. Membeberkan rahasianya untuk selalu mendapatkan inspirasi ketika menulis. Dunia yang kita tinggali ini bergerak lebih cepat dan terus lebih cepat dan kita tak mampu mengejar kecepatan itu.
Ia berpendapat daripada berusaha mengejar gerak langkah waktu yang sangat cepat, ia lebih memilih untuk bergerak lebih lambat dan melihat dunia lebih detil setiap kejadiannya. Dengan ia bergerak lebih lambat maka akan lebih mudah untuk menemukan inspirasi dari setiap kejadian yang terlihat di depan matanya.
Jika itu semua masih belum menghasilkan sebuah insipirasi bagi tulisanmu. Mungkin memang saatnya untuk berhenti menulis dan keluar rumahlah. Lakukan apa yang kamu suka jangan biarkan pikiranmu terkerangkeng. Ketika pikiran kamu sudah siap menulis segara menulis.
Apa yang diungkapkan mbak Theo ini telah banyak memberi saya inspirasi untuk tetap menulis. Dan pastinya untuk lebih banyak membaca sebab penulis besar tentunya tak lepas dari aktifitas membaca. Menulis tanpa membaca itu mustahil.
Mbak Theo pun mengatakan untuk selalu membawa catatan kecil dan pulpen untuk menuliskan ide-ide yang terkadang datang begitu saja. Seminar seperti ini cukup menarik dan menjaga semangat generasi muda untuk tetap berliterasi.
Selama masih ada yang orang yang membaca buku, selama itu juga literasi akan tetap hidup.

Share:

0 Comments