Aku adalah Siapa-siapa: Relasi dan Kekuasaan



Warganet kembali dihebohkan oleh sosok Dewi Persik. Bukan karena aksi panggungnya tapi aksi mobil mewahnya yang ingin menerobos jalur busway. Seperti kita tahu sendiri jalur busway adalah jalur khusu yang harus steril dari kendaraan selain busway.

Percobaan menerobos jalur busway ini semakin viral di media sosial berkat perkataan kasar DP yang dilontarkan kepada petugas TransJakarta. menurut Wibiwo, Humas TransJakarta petugas yang jaga saat itu dimaki dengan sebutan binatang dan diancam untuk didatangi oleh sekelompok orang karena tak memperbolehkan DP masuk jalur busway.

DP dalam instagramnya mengklarifikasi bahwa kejadian  tersebut tidak benar. Ia beralasan tak pernah berkata seperti itu menurut dia saat itu polisi yang mengawalnya menyarankan untuk memakai jalur busway karena saat itu keadaan darurat: asisten saya asmanya kambuh dan harus segera dibawa ke rumah sakit Fatmawati. Namun petugas TJ terlalu arogan tidak membuka jalur busway, malah memarahi suami DP.  

Namun bagaimanapun versi yang benarnya. Tindakan DP tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Dapat disimpulkan bahwa ia telah bersikap yang sangat arogansi. Arogansi yang muncul karena merasa telah menjadi seseorang yang terkenal dan berpengaruh. Sehingga ia merasa punya hak istimewa untuk melakukan sesuatu sesuai kemauan nya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan umum.
Tentu kasus arogansi seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi di negeri ini. Masih ingat dengan kasus nona cantik Sonya Depari yang berani membentak dan memaki-maki polwan yang menilangnya saat konvoi. Ia tidak mengakui kesalahan yang sudah diperbuat, bahkan ia malah mengancam polwan tersebut dan mengaku anak jenderal.
Bukan cuma itu aja. Ada  juga kasus pemukulan seorang petugas Bandara Sam Ratulangi oleh seorang ibu yang mengaku sebagai istri dari seorang jenderal polisi. Berawal dari pemeriksaan Walk Through Metal Detector (WTMD) yang berbunyi karena mendeteksi adanya unsur logam.
Sesuai prosedur, petugas meminta calon penumpang untuk melepaskan jam tangan dan diperiksa ulang dengan mesin X-Ray. Tidak terima dengan permintaan tersebut, si Ibu malah memarahi petugas dan menampar petugas. Dan pastinya masih banyak lagi kasus seperti serupa yang tidak terekspos media.
Uang punya relasi dengan para pemegang kekuasaan. Tentu sering kali kekuasan seseorang akan menimbulkan privilse atau hak istimewa dalam lingkungan sosialnya.
Sebagai contoh pelayanan orang dengan jabatan tinggi tentu akan mendapatkan pelayanan yang lebih istimewa dibanding orang yang berasal dari kelas ekonomi rendah. Lihat saja bagaimana istimewanya penjagaan di rumah sakit RSCM ketika SN yang sedang dirawat. Tidak sembarang orang bisa bebas masuk rumah sakit tersebut.
Hak istimewa tersebut tentu timbul karena ada penggolongan dalam suatu kelompok, masyarakat atau sebuah negara. Aristoteles pernah berkata dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur yakni: mereka yang kaya sekali, mereka yang tengah-tengah dan mereka yang meralat.
Kemudian jurang antar unsur itu semakin renggang dengan semakin berkembangnya sistem kapitalisme dalam suatu negara. Sistem kapitalisme telah membentuk suatu hierarki dimana para pemegang modal menjadi pemegang kekuasaan. 
Para pemegang kekuasaan ini terus mengekplorasi kekakayaan dan membangun jaringan-jaringan guna semakin memperkaya diri. Dan para pekerja terus saja berkutat dengan  kredit diberikan pemodal besar.
Hingga hieraki tersebut terbentuk menjadi suatu kelas-kelas dalam  sebuah tatanan yang disebut negara. Terus berkembang hingga meniadakan semangat kebersamaan. Sehingga semua dikendalikan penguasa dengan tujuan tertentu.
Menurut filsuf Michel Foucault kekuasaan bukanlah sesuatu yang hanya dikuasai oleh negara, tetapi sesuatu yang dapat diukur. Kekuasaan ada dimana-mana bahkan ada dalam diri kita sendiri.
Penjelasan mengenai kekuasaan oleh Foucalt cukup berbeda dibanding filsuf-filsuf lainnya. Dimana ia beranggapan kekuasaan merupakan satu dimensi dari relasi. Artinya, dimana ada relasi, disana ada kekuasaan.
Dari sini kita bisa simpulkan bahwa kekuasaan bisa timbul dimana saja yang penting orang tersebut punya relasi dengan para kekuasaan Di sinilah letak kekhasan Foucault. Dia tidak menguraikan apa itu kuasa, tetapi bagaimana kuasa itu berfungsi pada bidang tertentu.  
Kekuasan sendiri tidak berdiri sendiri. Ia diciptakan dari hasil relasi-relasi yang memilik tujuan yang sama untuk menindas golongan yang mereka sukai. Jadi bisa dilihat sendiri kelakuan para manusia sekarang yang mempunyai relasi dengan para penguasa. Di zaman now orang yang bukan siapa-siapa  bisa seketika menjadi siapa-siapa karena memiliki relasi-relasi dengan para pemegang kekuasaan. 
Saya jadi teringat ucapan seorang teman “ sehebat dan sepintar apapun kamu tidak bisa masuk golongan tertentu jika kamu tidak punya relasi untuk memasukan kamu ke golongan tersebut”.
Jadi sekarang kamu relasinya siapa?



Share:

0 Comments