Sebaiknya Kita Tak Ikut Perayaan Hallowean

Photo credit to bilnye.com
Tadi sore saya mendapatkan pesan WhatApps dari seorang teman yang menanyakan akan memakai kostum apa di perayaan Halllowean nanti. Saya cukup bingung sebab saya tak terlalu antusias mengikuti acara tersebut, namun kadung menerima tantangan saya harus memenuhinya. 

Pesta kostum hallowean sering kali diadakan di beberapa kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Surabaya. Teman saya memang sangat senang setiap kali ada pesta kostum selalu antusias mengikutinya. Bahkan dalam lemarinya terdapat beberapa kostum yang siap digunakan, namun jarang sekali dia memakai kostum hantu khas Indonesia.
Padahal kalo urusan hantu dan mistik Indonesia memiliki akar yang sangat kuat. Bahkan hingga sekarang masih banyak yang percaya pada dunia mistik. Tempat, petilasan, makam, pohon, gunung, atau bangunan yang dikeramatkan dan disakralkan karena dipercaya dihuni oleh kekuatan makhluk tak kasat mata, selalu dihormati, dipelihara, dan dijaga oleh orang-orang yang hidup
Bahkan kepercayaan tersebut masih melekat di generasi milineal. Lihat saja film remake pengabdi setan dari film dengan judul yang sama diserbu dan ditonton oleh jutaan kids jaman now. Film tersebut dapat membangkitkan film mistik yang hampir mendapat stigma dengan adegan berbau paha dan dada wanita menjadi film yang benar-benar horror.
Efek dari film tersebut cukup berdampak ke dunia nyata. Lokasi yang dijadikan syuting pengabdi setan bahkan menjadi tujuan destinasi bagi kids jaman now yang penasaran dengan hal-hal yang berbau mistik. Orang-orang yang penasaran mulai mencari pengalaman untuk bersentuhan dengan dunia tak kasat mata.    
Membicarakan lokasi syuting pengabdi setan saya jadi teringat dengan beberapa tempat di Kota Bandung yang menyimpan kisah misteri atau sering kali disebut urban legendnya Kota Bandung oleh masyarakat Bandung.
Beruntunglah dihari minggu kemarin ada sebuah komunitas yang mengadakan city tour yang akan mengangkat cerita urban legend di Kota Bandung dan mendatangi tempat-tempat cerita tersebut berasal. City tour ini pun diadakan pada malam hari untuk menambah kesan horror yang dirasakan setiap peserta. 
Nama tour tersebut bernama Legenda Urang Bandung. Pada city tour ini akan mengajak para peserta mendatangi tempat-tempat yang cukup terkenal dengan cerita urban legendnya.
Sebut saja rumah yang selalu tercium aroma kentang, jalan yang sering kali dilewati rombongan prajurit Belanda, sampai pada noni Belanda yang mendiami sekolah terkenal di Kota Bandung. Cerita-cerita tersebut tetap hidup di tengah kondisi Bandung yang terus berbenah menjadi kota modern.
Namun ada yang sedikit berbeda dari city tour ini. Sebab dalam city tour ini bukan saja diceritakan kisah mistiknya tetapi para peserta diberi pengetahuan akan latar belakang dari tempat tersebut. Latar belakang atau asal mula tempat tersebut menjadi penting agar kita selalu senantiasa menjaga warisan dari nenek moyang kita. 
Sebab bagaimanapun nenek moyang kita adalah yang menganut akan kepercayaan bahwa benda-benda memiliki jiwa dan nyawa. Sisi baiknya adalah nenek moyang kita menjadi manusia yang penuh kehati-kehatian dan berperilaku sesuai dengan tata krama yang berlaku di daerah tersebut.
Sebagai contoh saja pada pada pertengah lalu saya berkesempatan untuk mendatangi sebuah Kampung Adat Cireundeu yang berlokasi tak jauh dari Kota Bandung. Tepatnya lokasi kampung adat ini berada di selatan Kota Cimahi. Saya kesana untuk melihat rangkaian acara tutup tahun saka sunda.
Kampung Adat Cireundeu masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat mereka. Ini terlihat dari mereka yang tak makan nasi tetapi makan singkong. Konon seratus tahun kebelakang nenek moyang mereka sudah menjadikan singkong sebagai makanan pokok, dan masyarakat kampung tersebut masih menjaga itu. Ketika pemerintah sibuk mengatasi produksi beras yang menurun dengan mengimpor beras, masyarakat Cireundeu sama sekali tidak cemas. 
Mereka pun hidup selaras dengan alam sekitar, mereka mempunyai Leuweung (hutan) Larangan yang tidak boleh dimasuki karena pamali, kemudian mereka mempunyai Leuweung Baladahan yang digunakan warga untuk berladang, dan Leuweung Tutupan yang dimanfaatkan warga secara bertanggung jawab.Yang dimaksud bertanggung jawab adalah ketika mereka menebang satu pohon maka mereka wajib menanam satu pohon sebagai gantinya. 
Warga kampung Adat Cireundeu pun tidak menutup diri dari kemajuan teknologi. Mereka hidup berdampingan dengan teknologi, namun tetap memegang teguh adat yang berlaku. Mereka mengajarkan pentingnya sebuah landasan jika ingin menyerap suatu hal yang baru agar identitas diri atau jati diri tetap terjaga dan tak tergerus zaman.  
Mochtar Lubis dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977 menyebutkan bahwa seluruh kepercayaan tersebut kemudian tumbuh menjadi adat dan budaya membentuk pola pikir dan menjadi ciri manusia Indonesia.
Lihat saja terjaganya adat oleh masyarakat Bali menjadikan adat mereka daya tarik untuk mendatangkan wisatawan luar negeri. Bayangkan saja jika seluruh kids jaman now disetiap penjuru tanah air mampu menjaga warisan tersebut dapat menjadikan Indonesia lebih Indonesia banget.
Mungkin kids jaman now harus belajar sama Nella Kharisma; penyanyi dangdut koplo asal Jawa Timur yang masih menjadi kepercayaan terhadap hal mistik  lewat lagu Jaran Goyang. Tak Cuma itu kamu bisa sambil bergoyang dan melupakan bagaimana rasanya patah hati.
Maka sebenarnya perayaan hallowean adalah perayaan yang bukan Indonesia banget. Hallowean tidak pernah hidup di Indonesia tapi kita harus bangga dengan tradisi-tradisi yang diwariskan nenek moyang kita. Ayo goyang dulu.  

Share:

0 Comments